![]() |
| belltimemagazine.ie |
Pasti kalian sering melihat orang yang menjelaskan 'betapa surganya' sistem pendidikan di Finlandia, kan? Pasti!
Kalau mendengar tentang sistem pendidikan di Finlandia, pasti kata yang pertama muncul di pikiran kita adalah: jam belajar hanya sebentar, lebih banyak waktu bermain, tidak ada ujian nasional (UN), tidak ada pekerjaan rumah, dan sebagainya. Surga'nya para pelajar banget, kan?
Tapi yang membuat saya kagum adalah, dengan waktu belajar yang cukup 'singkat' itu, mampu membawa Finlandia menjadi salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Coba bayangkan saja... sehari hanya belajar selama 3-5 jam saja, tidak pernah ada PR, dan juga tidak ada ujian nasional, tapi mampu membuat anak-anak disana mendapat pendidikan berkualitas tinggi tanpa memandang pintar atau bodohnya anak.
Lantas, apakah Indonesia juga bisa menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik apabila mengikuti sistem di Finlandia?
Sayang sekali, untuk saat ini adalah tidak bisa.
Ada banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan sistem pendidikan di negara kita benar-benar tidak berkualitas, entah itu secara eksternal ataupun internal, sehingga sistem dari Finlandia sama sekali tidak cocok untuk ditetapkan. Jujur saja, ketika pertama kali melihat indahnya sistem belajar di Finlandia, saya benar-benar jatuh cinta dan langsung membuat kritikan pemerintah karena membuat sistem kurikulum yang benar-benar memberatkan siswa, sehingga saya selalu mengatakan bahwa ubahlah kurikulum menjadi persis di Finlandia.
Namun seiring berjalannya waktu, saya semakin sadar bahwa impian untuk menerapkan sistem dari Finlandia itu sangat mustahil. Ingin tahu apa saja? Simaklah!
1. Rakyat Kelas Menengah-Bawah Akan Membenci Membayar Pajak
Sekolah di Finlandia rata-rata memiliki banyak program khusus dan intensif yang gratis. Tapi gratis itu bukan 100% subsidi dari pemerintah saja loh, pajak besar dari rakyat pun menjadi salah satu pemicu banyaknya program-program gratis.
Seseorang yang berpendapatan tinggi, bisa sampai membayar pajak sebesar 62% dari total penghasilannya. Secara rata-rata sih, hampir 50% pendapatan masyarakat disetorkan ke negara sebagai pajak pribadi. Selain itu, barang-barang yang dijual pun harus melewati pajak PPN sebesar 24%. Gede banget, kan?
Coba bayangkan di Indonesia. Pajak penghasilan tertinggi hanya mencapai angka 30% saja, dan itupun masih banyak yang tidak membayar. PPN hanya 10% untuk semua barang.
Kalau saja kita menerapkan sistem di Finlandia, udah pasti bakal ada demo baru loh!
2. Perbedaan Kualitas Rakyat
Sekolah hanya 3-4 jam perhari, itupun tanpa ada PR dan ujian nasional. Tapi bisa menghasilkan anak yang cerdas, ceria, dan punya ketertarikan tinggi di matematika. Kok bisa?
Itulah perbedaan kualitas rakyat. Kalau saja di Indonesia menerapkan sistem belajar sesingkat itu, para murid justru akan semakin sewenang-wenang. Pergaulan bebas, geng motor, semakin malas sekolah, pikiran saat belajar sama sekali tidak fokus (pingin cepet pulang), dan lain-lain. Lingkungan di negara Indonesia dan Eropa sana hampir jauh berbeda, disini kita bahkan tak jarang mendengar anak yang belum masuk SD tapi bahasanya sudah anj*ng, bang*at, dan lain-lain.
Lalu, apakah kalau kualitas rakyat kita sudah bagus, kita bisa meniru sistem Finlandia?
Jawabannya...bisa, tapi tidak semudah mengatakannya. Mengganti pola pikir masyarakat paling minimal butuh waktu 10 tahun agar bisa berubah menjadi pola pikir yang baru.
3. Indonesia Adalah Negara Dengan Tingkat Korupsi Yang Tinggi
Kemarin ada Anas Urbanigrum, ada lagi Setya Novanto, ada lagi Kepala Lapas Sukamiskin. Koruptor di Indonesia itu tidak pernah ada habisnya, berita tentang munculnya kasus korupsi di media TV sudah menjadi makanan sehari-hari bagi rakyat Indonesia.
Pembayaran secara internal bisa dimanfaatkan pemilik institut untuk dijadikan ladang uang (sogokan).
Yap, itulah alasan kenapa sistem pendidikan Finlandia tidak cocok di Indonesia. Jadi jangan terus-menerus mengkritik pemerintah agar mengubah sistem kita yang kuno ya. Gak akan berhasil!

No comments